Kata yang dapat menggambarkan mamaku
begitu banyak, sangat banyak. Tapi mungkin yang kuucapkan pertama kali adalah
mandiri. Wanita hebat itulah yang melahirkan ku ke dunia ini tanpa kekurangan
satu apapun. Kakinya begitu kuat, melebihi kuatnya akar pohon, melebihi kuatnya
pondasi bangunan yang kokoh. Dia, Wanita itu, dapat berdiri tegak melewati
semua cobaan hidupnya.
Tumbuh dalam dekapannya
mengjarkan ku tentang apa itu kekuatan, kemandirian, dan kasih sayang. Tetapi,
dulu ku kira dia adalah sosok mama yang jahat.
Yang tidak segan-segan mengorek
mulutku jika aku memakan snack ringan dengan bumbu gurihnya yang sangat enak waktu
itu.
Yang tidak segan-segan menegurku
dengan nada datarnya ketika aku berlarian kesana kemari dirumah orang lain.
Yang tidak segan-segan memarahi
ku ketika aku menginggalkan sholat.
Yang tidak segan-segan memarahi
ku ketika aku menyuruh orang lain mengerjakan tugas sekolahku.
Yang tidak segan-segan memukul kecil
kakiku ketika aku membangkang.
20 tahun aku bertahan dengan keyakinan
ku bahwa ia adalah mama yang jahat. Tanpa berusaha mengingat tentang banyaknya
hal baik yang terlupa dari otak kecilku ini. Tentang bagaimana ia sebenarnya
sangat menyayangi ku. Mencintaiku tulus dari hatinya tanpa alasan. Bersedia
mati hanya untuk ku. Anaknya.
Ia yang tau aku tidak bisa
memakan makanan itu sampai ia harus mengorek mulutku hanya supaya aku tidak sibuk
menggaruk badanku dimalam hari.
Ia yang mengajarkanku sopan dan
santun, dan selalu menjunjung adab diatas ilmu. Yang selalu mengingatkan ku
untuk tidak menjadi orang yang “bodoh”.
Ia yang selalu mengajarkan ku apa
itu mandiri, bagaimana bertahan dan mencari jalan keluar. Bagaimana caranya tidak
mengandalkan orang lain. Hanya karena ia tau bahwa tidak mungkin selamanya ia
akan menemaniku di dunia ini.
Mama, maafkan kebodohanku. Baru
kusadari sekarang bahwa semua hal yang kau lakukan itu semata untuk kami,
anakmu. Bukan aku yang paling mengenal diriku ma, tetapi mama. Mamalah orang yang tau apa yang ada didalam
hatiku disaat orang lain mungkin menutup mata. Mamalah orang yang akan bertahan
sampai akhir membela ku disaat orang lain meninggalkan ku.
Ma, terimakasih telah memberikan bekal kedalam
hidup kami. Maafkan ketidak sempurnaan ku. Maafkan kebodohan ku yang tidak
menyadari bahasa cintamu selama ini. Maafkan aku yang selalu merepotkan mu
selama ini. Semua hal yang baik dari ku, adalah hal hal yang ku pelajari dari
mu ma. Wanitaku yang paling sempurna, malaikatku yang terbaik, pahlawanku yang
paling Tangguh. Mama, aku bangga menjadi anakmu.
Sehat-sehat ya ma, aku masih
butuh mama sampai kapanpun.