Lega tapi sesak. ya itu yang kurasakan sekarang jika aku harus pulang ke 'rumah' itu. Akupun bingung, kenapa terlalu banyak hal-hal menyakitkan yang aku ingat dibandingkan kenangan bahagia. Aku tetap sayang, aku tetap rela mati demi 'rumahku'. Disatu sisi aku sangat ingin pulang, tapi disisi lain aku sangat ingin berlari menjauh supaya aku bisa bernafas. Aku ingin seperti dulu, aku ingin kembali ke momen momen dimana aku percaya bahwa mereka adalah rumah ternyamanku.
Mungkin memang benar jika rasa sayang tidak harus selalu memiliki. Aku paham betul jika luka-luka itu sebenarnya berasal dari rasa sayangnya untuk ku. Rasa ingin melindungi baginya, tapi tidak bagiku. Ada banyak saat-saat dimana rasanya aku seperti bukan pulang ke 'rumah'. Sikap, perlakuan, dan perkataannya sangat menyakitkan ku, yang katanya sebenarnya itu untuk melindungiku. Aneh bukan?
"Mengapa harus menusukku jika ingin melindungiku?" Tanyaku berkali kali didalam hatiku.
Ya ada saat-saat dimana 'rumahku' benar-benar membunuhku seutuhnya dengan perkataan dan perbuatannya yang katanya itu adalah tameng untukku. Dan saat-saat itu muncul disaat aku benar-benar membutuhkannya. Terus muncul dan berulang sampai akhirnya aku seperti tidak tahu apalagi yang harus aku liat didalam diriku.
"Mungkin aku memang seburuk itu sampai tidak ada lagi tempat di dunia ini yang bisa menerimaku selain rumah ini?" tanya batinku lirih.
No comments:
Post a Comment